Terjepit Mahalnya Tanah dan Bahan Bangunan, Menjadi Harga Tempat Tinggal Yang Murah

Salah satu pengembang rumah rumah bersubsidi dengan harga besi beton yang cukup mahal, mengatakan bahwa pengaruh kenaikan BBM dan kenaikan Dollar AS amat signifikan dari segi material atau bahan bangunan. Melainkan, sebab KPR FLPP adalah keperluan rumah yang mendasar bagi MBR, dari sisi pasar hal itu tak terlalu berimbas.

“Efeknya bukan pada pasar, melainkan ke pengembangnya, itu yang amat besar. Paling tak, telah mengurangi marjin, terasa sekali. Kemudian timbul dilema paling susah, yakni belanja tanah untuk lokasi strategis rumah bersubsidi. Hasilnya, kami mesti lari ke tempat pinggir. Untungnya, jikalau di wilayah industri, seperti proyek kami di Karawang, pasar rumah bersubsidi amat tinggi per harinya,” ujar Nanan di jeda workshop pajak untuk member DPP Apersi di Jakarta.

Nanan mengucapkan, taktik bisnis terpaksa mesti diubah sebab masalahnya ialah lahan dan material. Ia mengatakan, kenaikan harga lahan dan material dapat menempuh 5 persen hingga 10 persen. “Sebab itulah, tarif operasional kami membengkak,” ujar Nanan. Nanan mengatakan, harga KPR FLPP di Karawang berbeda dengan di Bekasi.

Di Karawang, harga per unit Rp 95 juta, sementara di Bekasi telah Rp 105 juta. Sedangkan, letak antara keduanya tak jauh. “Harga tanah di kedua tempat sama tingginya. Untuk itu, jikalau belanja tanahnya telah dari tiga tahun lalu, tak terasa. Namun, jikalau belanjanya baru tahun ini, itu amat terasa sekali” kata Nanan. Tahun ini, sasaran Duta Pratama Propertindo membangun rumah subsidi berskema KPR FLPP di Karawang sebanyak 1000 unit. Hingga Agustus ini, jumlah yang tercapai baru 30 persennya. “Hingga Desember ini kami yakin menempuh 80 persen dari sasaran,” ujarnya.

Untuk produk komersil, dampak harga tanah yang tinggi, pihaknya memasarkan rumah tapak di atas harga subsidi, tapi di bawah harga komersil, yakni di kisaran harga Rp 125 – Rp 150 juta. Menurutnya, di Karawang harga itu masih relatif murah masyarakat. “Masalahnya, kita tak meraba skema FLPP. Ini jadi dilema tersendiri, sebab harganya nanggung lantaran muatan tarif operasionalnya tinggi sekali,” kata Nanan.

Kecuali Karawang, pihaknya juga membangun rumah bersubsidi di Purwakarta. Potensi pasar KPR FLPP di wilayah ini amat tinggi mengingat keduanya ialah tempat industri. Adapun di Bogor, harga rumah yang dibangun di atas harga subsidi, melainkan di bawah harga komersil. Kisarannya menempuh Rp 165 jutaan. “Di sana ada regulasi, untuk jenis 36 luas lahan minimum mesti 84 m2. Ini juga terasa sekali muatannya dengan bahan wire mesh,” ujarnya.

 

 

 

This entry was posted in Properti. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.