Pendidikan | Millennial Suka Membaca

pendidikan

Bertentangan dengan yang banyak diduga orang, rupanya atensi baca di kalangan milenial masih cukup tinggi. Buku-buku baru yang disasar untuk segmen milenial malah menampakkan penjualan yang luar umum. Data penjualan buku di Warung Gramedia menggambarkan demikian.

“Menurut laporan penjualan Warung Gramedia, penjualan buku tahun 2018 menampakkan peningkatan 13,6% secara nasional,” kata Wandi S Brata, Direktur Penerbit Buku Gramedia.

Baca : Saint Monica School Jakarta

“Pun untuk penerbit Gramedia sendiri pertumbuhannya menempuh hampir 18,5%. Dan banyak sekali judul buku kami yang dimaksudkan untuk segmen si kecil muda menampakkan penjualan luar umum,” tambahnya.

“Karakteristik generasi milenial lazimnya dipersepsikan malas, tak konsentrasi dan pesat bosan. Tapi yang mengagetkan yaitu prosentase generasi milenial yang menyukai membaca masih cukup tinggi,” kata Psikolog klinis-forensik A. Kasandra Putranto dalam pemaparannya di seminar tantangan literasi di era komputerisasi.

Untuk itu, ujar Kasandra, perlu ada dukungan teknologi yang membikin buku konsisten bisa dirasakan kalangan milenial. Dia juga menambahkan bahwa kultur membaca memunculkan bermacam-macam pengaruh positif dari sisi neurologis.

Istiadat membaca menurutnya amat penting sebab bisa memperbanyak kerutan di otak dan memperluas permukaan otak.

Kian banyak kerutan di otak, kian banyak neuron yang aktif dan koneksi antar neuron menjadi kian kuat, sehingga otak bisa berfungsi secara maksimal dan kecakapan mengadaptasi pengetahuan baru meningkat.

Artikel : Saint Monica School Jakarta

“Upaya membiasakan membaca dan menulis sebaiknya diawali semenjak dini, malahan dikala si kecil belum mengetahui huruf sekalipun. Peran ayah dan bunda dalam membaca dan memberi tahu cerita terhadap si kecil-si kecil sebelum tidur seumpama, yaitu aktivitas literasi yang paling dasar,” kata Pepih Nugraha, pendiri Kompasiana.

Di sekolah dasar, pengembangan literasi dikerjakan oleh guru, walaupun pada masyarakat biasa hingga tingkat SMP/SMA/mahasiswa literasi dikerjakan oleh para voluntir.

Tapi demikian, kata Pepih, menumbuhkembangkan literasi bukan sekedar ajakan atau imbauan semata.

“Literasi membutuhkan aksi kongkrit, bukan sekedar basa-basi. Dan di rumah sepatutnya melowongkan waktu untuk bercerita, guru menerapkan waktu khusus di jam-jam membaca buku perpustakaan, sementara voluntir dapat hadir di tengah-tengah publik dengan bermacam-macam program pelatihan menulis,” kata Pepih.

Baca : Saint Monica Kelapa Gading

Untuk menunjang gerakan literasi bagi generasi milenial, Alat Gramedia menawarkan solusi perpustakaan komputerisasi bernama e-Perpus. Ini yaitu cara dan aplikasi yang mempermudah pengelola perpustakaan di sekolah atau institusi pengajaran lainnya mempunyai layanan perpustakaan komputerisasi tanpa perlu repot.

“Mereka cukup memilih buku yang berharap disediakan, sisanya kami yang akan menolong pengelolaannya,” kata Petrus Sarjito, Vice Chief Sales Officer, Gramedia Komputerisasi Nusantara.

Kecuali bagi kalangan pengajaran, layanan perpustakaan komputerisasi e-Perpus juga disediakan dalam versi yang bisa disesuaikan bagi kalangan pengguna korporasi.

Sejumlah perusahaan seperti BCA, FIF, dan United Tractors telah menerapkan cara perpustakaan komputerisasi yang dioptimalkan oleh Alat Gramedia ini.

 

Artikel lainnya : St Monica School Jakarta

This entry was posted in Pendidikan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.